Ini cerita Carthalist yang aku buat buat lomba Fantasy Fiesta :)
Enjoy :)
CARTHALIST
Karya : Wirmayani
Boneka teddy bear terlempar dan hampir terbawa arus pantai yang tinggi. Terlihat seorang anak perempuan tengah berlari-larian ke arah pantai untuk mengambil teddy bear yang hampir hanyut itu. Ia berlari semakin ke tengah pantai, terus ke tengah, hingga kakinya tak lagi menyentuh pasir. Tangannya bergerak semakin cepat ketika boneka itu sudah didepan matanya. Dengan secepat kilat, ia meraih boneka itu dan kembali ke pinggir pantai untuk menemui keluarganya.
Kedua orang tuanya terkejut ketika melihat putrinya yang basah kuyup bersama bonekanya.
“Aku berusaha mengambil teddyku di tengah pantai, Rex melemparnya”
Rex hanya tertawa mendengarnya, sementara kedua orangtuanya melihat dengan tatapan marah padanya. Rex Zachary bersama dengan kedua orang tuanya dan adiknya Alice Zachary sedang berlibur ke pantai. Rex, remaja 16 tahun dengan rambut ikal dan tubuh jangkungnya selalu senang mengerjai adiknya, Alice. Alice, perempuan berusia 11 tahun, sangat menyayangi teddy bearnya jauh daripada kakaknya. Tapi kali ini, mereka berusaha untuk akur, karena liburan bersama keluarga sangat berarti bagi mereka. Orangtua Rex dan Alice memiliki pekerjaan yang sangat penting sehingga jarang mendapatkan waktu dengan anaknya.
Mereka berempat asyik menikmati suasana pantai, bermain pasir, berjemur, berenang, dan bermain. Keadaan saat itu sungguh hangat diselingi obrolan dan tawa. Matahari sudah mulai tenggelam, keluarga Zachary pun bersiap untuk pulang. Tetapi ide jail Rex muncul kembali. Rex menghampiri Alice dari belakang dan diam-diam mengambil Teddy bearnya, sambil tertawa ia berlari dan melemparnya ke tengah pantai lagi. Kali ini lebih jauh. Alice berteriak dan menangis, memaksa Rex untuk mengambilkannya, tapi tentu saja kakaknya tidak mau. Ayah dan ibunya menenangkan Alice, membujuknya untuk pulang kerumah dan membiarkan teddy bearnya di tengah laut. Alice terus menangis sepanjang perjalanan pulang.
Tangisan Alice terus terdengar dari kamarnya. Rex sedikit iba mendengarnya. Rex masuk ke kamar Alice meminta maaf, tapi tetap tak dihiraukan oleh Alice, ia tetap menangis.
“Ayolah Alice, itu hanya boneka biasa, nanti ibu bisa membelikan yang baru” Alice tetap menangis dan hanya sedikit menoleh ke arah Rex
“Oke, aku sangat minta maaf atas kejadian kemarin, sekarang apa yang harus aku perbuat?”
Alice mengangkat kepalanya dan memandang mata Rex, ia berkata dengan lirih
“Antarkan aku ke pantai itu sekarang, kita cari teddy”
Rex terkejut mendengar ucapan adiknya, ke tengah pantai hanya untuk mencari boneka? Sungguh tak masuk akal. Tapi Rex tak punya pilihan lain, ini juga salahnya, maka ia harus bertanggung jawab.
Orangtua Alice dan Rex sedang bekerja hingga larut malam. Rex memasuki mobil ditemani Alice dan mulai menghidupkan mesin. Sesampainya di pantai Parithera, Alice dan Rex mulai berjalan ke tempat kemarin. Rex tak habis pikir dengan ide Alice, bagaimana mungkin mencari bonekanya di laut yang luas ini.
“Sekarang terserahmu, bagaimana caranya mencari teddymu itu, gadis kecil? Menyuruhku berenang ke tangah laut? Berlayar dengan perahu nelayan?” tukas Rex mulai jengkel.
“Rex, please, bantu aku. Aku yakin teddy belum terbawa arus yang jauh”
“Lalu maumu apa, Alice?”
“Entahlah, menurutku menggunakan perahu nelayan adalah ide yang bagus”
“Astaga, baiklah”
Alice dan Rex menyusuri pesisir pantai untuk menemukan perahu nelayan yang bisa dipinjam. 10 menit sudah mereka berjalan, tapi belum juga mendapatkan hasil, akhirnya mereka memutuskan untuk duduk beristirahat sejenak. Rex sangat kelelahan akan ulah adiknya ini, yah tapi ini sebenarnya juga ulahnya. Tiba-tiba Alice seperti mendengar sesuatu. Suara teddy Alice. Teddy milik Alice memang hanya boneka biasa, yang saat dibeli boneka itu dapat bernyanyi, tapi karena boneka itu sudah lama, Alice mengetahui suara seperti baterai rusak itu adalah milik dari teddy bearnya. Ia mengikuti dari mana arah suara teddynya tersebut. Rex menyadari tingkah adiknya dan langsung mengikuti Alice.
“Kau mencari apa? Kenapa harus mengendap-ngendap?”
“sssstttt, suara teddy”
“Oh ya ampun, imajinasi anak kecil, oke jangan terlalu jauh, aku akan diam disini saja”
Rex berhenti dan duduk di pasir, sementara Alice terus mengikuti suara teddynya. Beberapa langkah dari tempat Rex, Alice melihat ke dalam pepohonan. Disanalah suara itu berasal. Alice menyibakkan daun yang menghalangi suara itu. Teddy bear Alice bukannya mengeluarkan suara sendiri, tetapi suara itu dihidupkan oleh makhluk aneh. Alice berteriak karena ketakutan. Rex yang mendengarnya langsung datang menghampiri adiknya. Alice menunjuk ke arah yang dilihatnya. Makhluk itu kecil, dengan tinggi sekitar 30 cm, badannya berwarna ke abu-abuan disertai bintik kecil di sekitar tubuhnya. Wajahnya mirip seperti tikus tua. Ia mengenakan kemeja putih yang compang-camping dan celana coklat yang kebesaran. Matanya sayu dan ketakutan. Badannya kurus,tak menggunakan alas kaki, rambutnya putih. Rex terkejut dan terdiam melihatnya. Alice akhirnya memberanikan diri untuk berbicara padanya.
“Maaf, k-kamu siapa? Hm maksudku, kamu ini apa?”
Makhluk itu hanya terdiam dan bersembunyi di balik teddy bear Alice.
“apa kau dapat berbicara? Maaf tapi itu boneka adikku. Kau tak perlu takut pada kami” Rex berbicara sambil menujuk ke arah boneka teddy bear yang ada di depan makhluk itu. Makhluk itu terdiam, mengangkat teddy bear Alice sekuat tenaga untuk diberikan ke tangannya. Alice terkesima akan perbuatannya. Hingga beberapa detik kemudian, makhluk itu berbicara.
“Aku tak sengaja melihat bonekamu di tengah pantai, aku rasa benda ini menarik, jadi karena tujuanku memang ke sini, aku bawa bonekamu ke sini. Aku Pitt”
“Dan… tepatnya, kau ini apa?” Rex masih bertanya-bertanya.
“Brownie dari Carthalist” ucapnya sembari tersenyum, kali ini sudah tak merasa takut lagi.
“Terima kasih telah mengambilkan teddyku Pitt, tapi, kau bilang dari Carthalist? Itu dimana? Dan untuk apa kau kesini?” Tanya Alice.
“Carthalist adalah negeriku, tempat para Patra dan brownienya, dan makhluk-makhluk lain hidup dalam damai, tempatnya berada di bawah laut. Kami hidup damai sebelum dia datang.”
“Bawah laut? Itu berarti kau adalah hewan laut? Dia siapa?”
“Tidak. Maksudku bukan di laut,tapi di bawah laut. Apa kalian tak tahu? Laut pasti ada dasarnya. Di dasar laut, kita bisa berpijak di atas pasir, tapi di tempat kalian berpijak itulah, negeri kami berada. Dan tentu saja, kalian para manusia tidak akan pernah mengetahui keberadaan kami. Karena kami memiliki Mr. Weez yang mempunyai kekuatan sihir untuk memisahkan jarak antara laut dan Carthalist. Jadi sudah jelas, aku bukan hewat laut. Yah, sebelum mereka datang. Saudara kandung dari Mr. Weez ingin menghancurkan Carthalist, Hert Weez”
“apakah ini sungguhan? Ada dunia di bawah laut sana? Kau pasti bercanda Pitt” kata Rex
“Rex, apakah Pitt menurutmu nyata? Ayolah, percaya padanya. Ohya Pitt, namaku Alice, dan ini kakakku Rex”
“Senang bertemu kalian, jadi, bagaimana?”
“bagaimana apanya?” Rex dan Alice berbicara bersamaan
“Kalian mau membantuku? Tolonglah, tujuanku kesini adalah untuk mencari bantuan kepada manusia, dan kutemukan kalian, maukah kalian membantuku? Kita hanya memiliki waktu sampai air sedang pasang malam ini, please”
“Apa? Kami? Membantumu? Kami tidak bisa! Apa yang dapat dilakukan 2 anak kecil menyelamatkan negeri kalian? Lagipula bagaimana caranya kami ke negerimu? Ke dasar laut dengan berenang? Itu sungguh idak masuk akal, tolong jangan bahayakan kami Pitt!”
“Tidak! Lihat ini, genggam dan berkonsentrasilah”
Pitt memberikan Rex sebuah batu berukuran sedang dan berukirkan lambang segitiga spiral yang berwarna putih di atasnya. Sesuai suruhan Pitt, Alice dan Rex menggenggam batu itu, memejamkan matanya, dan mulai berkonsentrasi. Di pikiran mereka kini ada seorang kakek tua yang berbadan tinggi, bertangan 4, memiliki jenggot panjang dan bermata satu. Kakek itu seperti sedang berbicara dengan seseorang. Raut mukanya sedih tetapi tetap mencoba untuk tegar.
“Pergilah Pitt, aku percaya padamu, menurut ramalanku akan ada 2 orang bersaudara yang akan menyelamatkan Carthalist. Gunakan ini”
Kakek itu menunjukkan sebuah kalung dengan rantainya yang sangat panjang, kalung itu bermatakan batu halus dengan lambang yang persis ada di batu yang digenggam Rex dan Alice. Lalu disana terlihat Pitt yang menggunakan kalung itu. Rex dan Alice kembali berkonsentrasi. Kini di pikiran mereka munculah dunia yang sangat indah, seperti layaknya hutan, tetapi banyak terdapat rumah yang dibangun dalam ukuran yang tidak terlalu besar. Para warga berkumpul menjadi satu, warga disana persis seperti kakek yang tadi. Semua bermata satu, dan menggunakan ikat kepala yang ditengahnya terdapat lambang segitiga spiral itu. Mereka semua berkumpul menghadap ke seseorang, kakek itu. Kakek itu mengumumkan sesuatu hal, yang tidak terlalu jelas didengar oleh Rex dan Alice, tetapi mereka mengetahui bahwa yang sedang dibicarakan adalah mengenai detik-detik kehancuran dunia mereka oleh Hert. Warga nampak murung. Saat itu juga Rex dan Alice tersadar dari pikiran yang disebabkan batu ajaib itu. Pitt menunjukkan kalung yang digunakannya, ia juga bercerita bahwa ia adalah brownie dari Mr. Weez, kakek yang ada di pikiran Rex dan Alice. Kalung yang ia gunakan adalah salah satu benda sihir milik Mr. Weez untuk pergi ke dunia manusia tanpa perantara apapun. Dengan berbagai pertimbangam, akhirnya Alice dan Rex ikut bersama Pitt, walaupun Rex masih kurang percaya akan peristiwa yang terjadi sekarang.
Pitt melepaskan kalungnya dan memakaikan kalungnya ke kepala Rex dan Alice. Pitt memegang batu hiasan di kalungnya, menggenggamnya dan berkomat-kamit mengucapkan mantra. Alice hanya terdiam sambil memeluk teddynya, sedangkan Rex terus mencibir dan mengeluh. Pitt menyuruh mereka untuk memejamkan mata dan jangan bergerak. Satu menit setalahnya, Pitt memperbolehkan mereka untuk membuka mata.
Betapa kagetnya mereka karena tiba di tempat yang luarbiasa indah. Pohon-pohon yang tinggi itu memiliki daun-daun yang berwarna cerah, pepohonannya bergoyang-goyang bukan karena ditiup angin, melainkan karena ada hamadryad di setiap pohonnya. Nexie dan Pixie, peri-peri bunga berterbangan ke bunga yang satu lalu ke bunga yang lain. Daun-daun yang kecoklatan berguguran dari pohonnya. Alice sangat terkesima melihatnya, ia melangkah untuk mengambil salah satu pixie yang berterbangan.
“jangan sentuh mereka!” tiba-tiba Pitt berteriak.
“Kenapa?”
“Pixie dan nexie adalah makhluk yang sensitif, sama sepertiku, jangan mengganggunya atau dia akan marah”
“haha, memangnya kau sensitif? Makhluk sepertimu?” Rex tertawa dan tersenyum meremehkan
Pitt hanya mencibir dan tidak menghiraukan ucapan Rex. Mereka bertiga berjalan dipimpin oleh Pitt. Setelah beberapa lama berjalan, mereka sampai di tengah hutan. Terdapat banyak rumah-rumah kayu dengan ukuran kecil. Penghuninya sedang berjalan kesana kemari. Mengobrol, tertawa, memasak menggunakan api unggun, dan ada juga yang bermain-main di pohon. Saat Alice dan Rex berjalan, mata mereka semua tertuju padanya. Aktivitas mereka terhenti sementara, sementara Alice dan Rex tetap berjalan. Rex merasa tak nyaman diperhatikan seperti itu, sementara Alice tersenyum kepada mereka semua dan melambaikan tangan. Pitt terus berjalan, hingga mereka sampai pada sebuah rumah yang paling besar, rumah Mr. Weez.
Pintu langsung terbuka saat mereka sampai didepan rumah itu.
“Selamat datang di rumah Mr. Weez” Pitt menunjukkan ke dalam rumah. Tak beberapa lama, Mr. Weez keluar menemui Pitt, Alice dan Rex.
“Oh Pitt, senang melihatmu, dan lihat! Kau telah membawa 2 anak yang aku perintahkan! Terima kasih brownieku”
“Senang bisa membantu tuan” ucap Pitt sambil membungkuk. Alice dan Rex masih terduduk diam, melihat Mr. Weez persis seperti bayangannya saat menggenggam batu itu.
“Selamat datang di Carthalist, dua anak muda. Dan, siapa nama kalian?”
“Alice Zachary dan ini kakakku Rex Zachary”
“Hmm Mr. Weez, bisakah kau menjelaskan mengapa kami kesini? Dan apa sebenarnya yang akan terjadi pada Carthalist? Aku kurang mengeri akan apa yang dijelaskan oleh Pitt”
“Oke. Jadi begini. Aku Will Weez mempunyai kekuatan sihir dan juga meramal. Adikku Hert Weez mempunyai kekuatan yang sama denganku kecuali meramal. Adikku bersifat keras kepala, hingga dulu, ayahku mengusirnya dari rumah karena sembarangan menggunakan peralatan sihir ayah, yah, saat kami berusia 10 tahun, kami belum dapat menggunakan sihir apapun, Hert menyihir temannya hingga mempunyai ekor dan aku melaporkannya kepada orangtuaku. Dia diusir dari rumah dan aku tak tahu kemana perginya. Saat aku berusia 18 tahun, ada seorang penyihir jahat yang membunuh orangtuaku dan menyihirku menjadi seperti ini. Dulu, aku adalah manusia biasa, hingga disihir menjadi mata satu dan bertangan empat. Aku layaknya orang aneh yang tak punya siapa-siapa lagi. Akhirnya dengan semua kekuatan sihirku, aku membuat sebuah dunia, dimana semua penduduknya akan berpenampilan sepertiku, aku membuatnya di bawah laut dan seperti yang kau lihat, kami semua hidup bahagia. Tapi kemarin, aku melihat ke bola kristalku, adikku Hert merubah dirinya menjadi boy mermaid dan bergabung dengan boy mermaid lainnya di laut, tepat diatas kita. Dia sepertinya mengetahui keberadaanku dan ingin membalas dendam padaku. Dia ingin menghancurkan Carthalist”
“Wow” Rex menjawab penjelasan Mr. Weez
Belum sempat Mr. Weez melanjutkan penjelasannya. Tiba-tiba salah satu Patra masuk ke rumah Mr. Weez dengan nafas yang teregah-engah. Wajahnya ketakutan dan terus menoleh ke belakang.
“Apa yang terjadi, Joy?” Pitt bertanya pada patra yang bernama Joy itu.
“Gawat Mr. Weez, ada hujan di ujung hutan selatan!”
“Apa? Gawat! Terima kasih telah memberitahuku Joy, aku akan menanganinya”
Rex sangat bingung dengan ucapan Joy tadi. Hujan? Ada apa dengan hujan? Sementara Mr. Weez dan Pitt bersiap-siap dengan perlengkapannya karena akan menuju hutan selatan yang dilanda hujan.
“Tunggu apa lagi? Ayo cepat, ambil perlengkapan kalian di sebelah sana” kata Mr. Weez kepada Alice dan Rex. Mereka hanya mengikuti saja,d an segera mengambil perlengkapan yang disediakan oleh Mr. Weez, walupun sebenarnya mereka tidak tahu apa yang mereka bawa. Alice mendapatkan sebuah tali kayu sepanjang 1 meter, sebuah kertas perkamen, dan bola kecil. Sedangkan Rex mendapatkan sebuah botol dengan cairan berwarna hijau, sebilah pisau kecil, dan sepasang sepatu. Semua barang-barang yang mereka dapatkan memiliki lambang yang mereka lihat sebelumnya, lambang Carthalist. Mereka berdua juga mendapatkan ikat kepala yang sama seperti Patra.
“Ini hebat! Kita akan berperang Rex!”
“Yah, aku harap kita tidak apa-apa”
“Hey cepatlah!” Pitt berteriak dari depan pintu.
Rex dan Alice cepat-cepat menggunakan ikat kepala yang mereka dapatkan dan bergegas mengikuti Mr. Weez. Dengan menunggangi unicorn, 5 menit kemudian mereka sampai di ujung hutan selatan. Hujan berjatuhan dari langit. Alice mengerti, ini adalah dunia bawah laut, jika ada air yang masuk dari atas, maka dunia ini akan bersatu dengan lautan. Alice menjelaskannya pada Rex.
“Rex, aku akan meramalkan apa yang terjadi, kau tangani hujan ini”
“Aku? Dengan apa?” Rex kaget sekaligus kebingungan, tapi saat itu ikat kepala yang digunakannya bekerja, ada suara-suara di pikirannya, Rex kembali berkonsentrasi, hingga suara keras itu menjadi lembut dan mengatakan “gunakan sepatu”.
Rex berpikir sejenak. Ia menggunakan sepatu itu dan mencoba melompat, dengan konsentrasi penuh, ia terbang jauh ke atas, ke asal hujan itu. Rex melihat air berjatuhan dari sebuah cahaya menyilaukan, ia tahu itu berasal dari laut. Rex mendekati sinar itu, melihat ke dalamnya, sungguh pemandangan yang aneh, ia seperti melihat ke dalam aquarium, dunia laut ada disana. Rex mondar-mandir memikirkan caranya menghentikan air itu dengan sepatu. Ide Rex adalah menendang sinar itu dengan sepatu ia gunakan. Sepatunya membawanya semakin ke atas mendekati sinar, Rex membalikkan badannya 180 derajat dan mulai mengayunkan kakinya ke sinar yang menjatuhkan air itu, Patra yang melihat dari bawah sangat terkejut akan reaksi dari tendangan Rex. Sinar itu menutup perlahan hingga menghilang dan air sudah tak lagi berjatuhan. Rex tersenyum bangga dan Patra bersorak bertepuk tangan.
“Kerja yang baik Rex, tapi ramalanku mengatakan hari ini akan ada pertempuran besar. Hert akan datang bersama boy mermaid dan monster-monster laut. Carthalist, persiapkan senjata kalian!”
Mr. Weez kembali ke rumahnya mempersiapkan peralatan lebih lengkap, begitu juga penghuni Carthalist. Sebentar lagi pertempuran akan dimulai.
Air kembali berjatuhan sedikit demi sedikit dari atas. Warga carthalist telah siap dengan perlengkapannya, semua berbaris di luar dan menghadap ke atas, siap untuk berperang di antara dua dunia. Mr. Weez menyihir semua warga Carthalist agar dapat bernafas dalam dan air. Dari atas terdengar suara mengancam dan suara monster mengerikan, Patra menyebutnya monster Kelpie. Mereka berteriak-teriak dan menimbulkan suara-suara yang sangat memekakkan telinga. Sedikit demi sedikit air terus berjatuhan, Kelpie itu semakin terlihat, dikelilingi boy mermaid jahat.
Mr. Weez dengan unicornnya memimpin di depan, lalu berbisik kepada Rex dan Alice untuk berdiri di sampingnya, memberitahunya untuk segera mempelajari barang-barang apa yang didapatnya di rumah Mr. Weez. Rex dan Alice memejamkan matanya dan berkonsentrasi keras. Mr. Weez mengacungkan pedangnya dan berteriak “Saatnya perang!”
Para brownie mengubah wujudnya menjadi boggart, makhluk besar berwarna hijau dan menyeramkan dengan gigi-giginya yang tajam, beginilah yang disebut sensitif oleh Pitt. Patra yang memiliki keahlian melompat tinggi pun memanfaatkannya untuk melemparkan panah ke arah Kelpie dan boy mermaid. Kelpie yang berkeliaran terus menyundul bagian yang sudah berlubang sehingga air laut masuk. Alice mengambil tali kayu pada sakunya dan mengikatnya pada boneka teddy, lalu diangkatnya bonekanya ke atas. Teddy bear itu berubah menjadi monster beruang air dan menerobos Carthalist, berperang dengan para Kelpie di lautan. Alice melemparkan bola kecil miliknya ke lautan, bola itu awalnya melayang dan mengeluarkan sinar, lalu monster beruang Alice memperbanyak dirinya untuk melawan Kelpie yang jumlahnya puluhan itu.
Air semakin banyak jatuh ke Carthalist. Patra melompat lebih tinggi, mencapai lautan lalu melepaskan anak panah mereka. Boggart yang berkeliaran mulai menjulurkan tangannya ke lubang yang mulai membesar itu, menangkap boy mermaid dan membawanya ke Carthalist, tentu saja boy mermaid itu tidak dapat bernafas di darat. Kekuatan Hert masih kalah dibanding Mr. Weez, karena Mr. Weez selalu mempelajari ilmu-ilmu baru yang ia ketahui. Hert dapat bernafas di darat, ia terbang ke Carthalist dan membuat banjir yang tingginya hampir mencapai perut. Mr. Weez dan Hert berperang dengan kekuatan sihirnya, sementara yang lain sibuk saling membunuh satu sama lain. Rex meminum cairan hijau yang ia miliki, badannya kejang sementara, ia merasakan kaki dan tangannya menjadi sangat kuat. Rex berenang ke lautan dan membantu monster teddy melawan Kelpie, sementara boy mermaid telah ditangani oleh para boggart. Kelpie terakhir berhasil membunuh monster teddy yang tersisa. Rex menghampirinya, membantingnya, kemudian menusuknya dengan sebilah pisau yang ia miliki, tepat di perut Kelpie itu. Rex membunuh Kelpie terakhir. Semua musuh telah mati, kecuali Hert. Hert dan kakaknya masih beradu kekuatan, akhirnya dengan segala penghabisan, Mr. Weez berhasil mengalahkan kekuatan sihir Hert, sebelum Hert menyihir Carthalist menjadi dipenuhi air hampir setinggi kepala Patra. Alice cepat-cepat mengambil perkamen yang ia bawa, membaca mantra dalam huruf yunani tersebut, kemudian semua air di Carthalist surut. Rintikan air dari lubang yang terbuka terus mengeluarkan air deras. Rex melompat menggunakan sepatunya dan menendang lubang itu. Lubang tertutup kembali. Para boggart berubah kembali menjadi brownie kecil yang baik.
Carthalist kembali normal. Carthalist adalah pemenang dari peperangan ini, sungguh akhir yang baik, pikir Alice dan Rex. Ini saatnya Alice dan Rex untuk kembali pulang ke rumah. Mereka mempersiapkan barang bawaan mereka dan minta ijin kepada Mr. Weez untuk kembali ke dunianya.
“Terima kasih, anak muda, kau sangat banyak membantu” kata Mr. Weez yang berjalan ke luar rumahnya
“Sama-sama, terima kasih juga untuk pengalaman menakjubkannya” ucap Rex
Mr. Weez hanya tersenyum dan menyuruh Pitt untuk segera mengantarkan mereka kembali ke pantai. Dengan kalung ajaibnya, dalam sekejap, Alice dan Rex telah kembali ke pantai Parithera. Alice dan Rex tersenyum. Hal yang dilaluinya hari ini merupakan hal yang paling menakjubkan dan menegangkan bagi mereka. Mereka tahu, ini adalah akhir yang menyenangkan.
---